Nabi Harun mengembuskan napas terakhirnya pada usia 122 tahun di sebuah tempat bernama Al-Tiih, tepat 11 bulan sebelum wafatnya Nabi Musa.
Menjelang ajalnya, dikisahkan sebuah pohon misterius muncul di puncak Gunung Hor (kini Gunung Harun) lengkap dengan tempat peristirahatan yang harum. Harun wafat dalam keadaan tenang saat beristirahat di tempat tersebut.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi Bani Israil. Sepeninggal Harun dan Musa, tantangan bagi kaum tersebut semakin berat, bahkan sebagian mulai melupakan dan mengubah isi Taurat.
Murianews, Jakarta – Salah satu sosok yang menonjol karena kesetiaan dan retorikanya yang luar biasa adalah Nabi Harun AS, kakak kandung sekaligus pendamping setia Nabi Musa AS dalam menghadapi tirani Fir'aun.
Berdasarkan catatan sejarah dalam buku Kisah dan Mukjizat 25 Nabi dan Rasul karya Aifa Syah, Nabi Harun diangkat menjadi utusan Allah atas permintaan khusus Nabi Musa AS.
Musa menyadari bahwa tugas dakwah menghadapi penguasa Mesir yang kejam membutuhkan pendamping yang cakap dalam berkomunikasi.
Lahir tiga tahun sebelum Nabi Musa (sekitar 1531 SM), Harun tumbuh dengan anugerah kelancaran berbicara.
Jika Musa dikenal memiliki keterbatasan dalam lisan, Nabi Harun diberkati dengan ”lisan yang tajam”karena kepiawaiannya dalam berdebat dan mematahkan argumen lawan dengan tegas.
Hal ini diabadikan dalam Al-Qur'an Surat Maryam ayat 53, yang menegaskan bahwa pengangkatan Harun sebagai Nabi merupakan bentuk rahmat Allah kepada Musa.
Keduanya bahu-membahu menuntut keadilan bagi Bani Israil, sebagaimana terekam dalam Surat Thaahaa ayat 47, mendesak Fir'aun untuk menghentikan penyiksaan terhadap kaum mereka.
Salah satu fragmen paling mengharukan dalam perjalanan hidupnya terjadi saat Nabi Musa pergi ke Bukit Sinai selama 40 hari untuk menerima wahyu.
Amanah...
Nabi Harun dititipkan amanah besar untuk menjaga akidah Bani Israil. Namun, di bawah pengaruh hasutan Samiri, kaum tersebut goyah dan mulai menyembah patung anak lembu emas.
Meskipun Harun telah berusaha keras memperingatkan mereka, kekerasan kepala Bani Israil hampir merenggut nyawanya.
Sekembalinya Nabi Musa, kemarahan sempat tertuju pada Harun, namun kejujuran dan ketulusan Harun dalam menjelaskan situasi membuat Musa luluh.
Peristiwa ini diakhiri dengan doa syahdu yang dipanjatkan Musa untuk memohon ampunan bagi dirinya dan saudaranya.
Selain kefasihan lisan, Allah SWT membekali Nabi Harun dengan mukjizat fisik sebagai bukti legitimasinya sebagai pemimpin.
Pertama, tongkat yang berbunga. Saat terjadi perselisihan mengenai kepemimpinan di antara suku-suku Bani Israil, Allah memerintahkan peletakan tongkat di tempat suci.
Hanya tongkat Harun yang secara ajaib bertunas dan berbunga, menandakan pilihan ilahi atas dirinya.
Kedua Kitab Taurat. Bersama Musa, ia dianugerahi Al-Furqan (pembeda hak dan batil) serta penerangan bagi orang-orang yang bertakwa.
Wafat...
Nabi Harun mengembuskan napas terakhirnya pada usia 122 tahun di sebuah tempat bernama Al-Tiih, tepat 11 bulan sebelum wafatnya Nabi Musa.
Menjelang ajalnya, dikisahkan sebuah pohon misterius muncul di puncak Gunung Hor (kini Gunung Harun) lengkap dengan tempat peristirahatan yang harum. Harun wafat dalam keadaan tenang saat beristirahat di tempat tersebut.
Kepergiannya menjadi kehilangan besar bagi Bani Israil. Sepeninggal Harun dan Musa, tantangan bagi kaum tersebut semakin berat, bahkan sebagian mulai melupakan dan mengubah isi Taurat.