Namun, atas kehendak Allah SWT, semua kemegahan itu sirna dalam sekejap. Nabi Ayyub mendapatkan ujian dari Allah.
Ujian tidak berhenti pada hilangnya harta. Nabi Ayyub ditimpa penyakit kulit yang sangat parah di sekujur tubuhnya. Penyakit ini membuat orang-orang di sekitarnya, baik kerabat maupun sahabat karib, merasa jijik dan menjauh.
Dalam pengasingannya di sebuah tempat kumuh di pinggir kota, hanya sang istri yang setia menemani. Wanita mulia ini bekerja keras menjadi buruh upahan demi menyambung hidup dan merawat suaminya.
Mayoritas ulama menyebut nama istri Nabi Ayyub adalah Rahma binti Efraim bin Yusuf bin Ya'qub. Ia bukan sekadar pendamping, melainkan tulang punggung keluarga di masa-masa paling kelam.
Ketika penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub semakin parah, status sosial mereka jatuh hingga ke titik nadir. Rahma terpaksa bekerja sebagai pembantu demi mencari sesuap nasi.
Murianews, Jakarta – Dalam catatan sejarah para Nabi, nama Ayyub AS berdiri tegak sebagai simbol ketabahan yang tak tertandingi. Kisah hidupnya bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan potret nyata bagaimana keimanan diuji melalui titik nadir kehidupan.
Pada mulanya, Nabi Ayyub AS adalah seorang bangsawan kaya raya di wilayah Huran, Syam (negeri Tsaniyah). Ulama ahli tafsir dan sejarah, termasuk Ibnu Asakir mencatat, Nabi Ayyub memiliki aset tanah yang sangat luas, ribuan hewan ternak, serta keluarga yang harmonis.
Namun, atas kehendak Allah SWT, semua kemegahan itu sirna dalam sekejap. Nabi Ayyub mendapatkan ujian dari Allah.
Ujian tidak berhenti pada hilangnya harta. Nabi Ayyub ditimpa penyakit kulit yang sangat parah di sekujur tubuhnya. Penyakit ini membuat orang-orang di sekitarnya, baik kerabat maupun sahabat karib, merasa jijik dan menjauh.
Meski jasadnya dipenuhi penderitaan, Nabi Ayyub menjaga dua hal agar tetap sehat, yakni hati dan lisannya. Beliau tak pernah berhenti berzikir dan bertasbih memuji Allah, siang maupun malam.
Dalam pengasingannya di sebuah tempat kumuh di pinggir kota, hanya sang istri yang setia menemani. Wanita mulia ini bekerja keras menjadi buruh upahan demi menyambung hidup dan merawat suaminya.
Mayoritas ulama menyebut nama istri Nabi Ayyub adalah Rahma binti Efraim bin Yusuf bin Ya'qub. Ia bukan sekadar pendamping, melainkan tulang punggung keluarga di masa-masa paling kelam.
Ketika penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub semakin parah, status sosial mereka jatuh hingga ke titik nadir. Rahma terpaksa bekerja sebagai pembantu demi mencari sesuap nasi.
Stigma...
Namun, stigmatisasi masyarakat terhadap penyakit Ayyub membuat Rahma kehilangan pekerjaannya.
Dalam kondisi terjepit, Rahma melakukan pengorbanan ekstrem. Ia memotong dan menjual rambutnya kepada seorang perempuan dari kalangan atas demi mendapatkan makanan layak untuk suaminya.
Nabi Ayyub, yang curiga akan asal makanan tersebut, bersumpah tidak akan menyentuh hidangan itu sebelum tahu sumbernya. Hati sang Nabi hancur ketika Rahma membuka penutup kepalanya, memperlihatkan kepalanya yang kini botak demi dirinya.
Melihat kondisi istrinya yang kian menderita, Nabi Ayyub sempat tersulut emosi dan bersumpah akan mencambuk Rahma sebanyak seratus kali.
Ada beberapa riwayat mengenai alasan sumpah ini. Sebagian menyebut karena Rahma tergoda tipu daya setan yang menyamar sebagai tabib, sementara riwayat lain menyebutkan karena Ayyub merasa malu kepada Allah saat Rahma mengeluh dan memintanya berdoa agar kesulitan segera diakhiri.
Ayyub merasa masa sejahteranya jauh lebih lama dibandingkan masa sulitnya, sehingga ia merasa tidak pantas untuk mengeluh.
Meskipun sempat terjadi ketegangan hingga Rahma pergi meninggalkan suaminya, cinta dan kesetiaan menariknya kembali. Saat Rahma kembali, mukjizat besar sedang terjadi.
Dalam kondisi yang sangat menyentuh itu, Nabi Ayyub memanjatkan doa yang abadi dalam Al-Qur'an Surat Asl-Anbiya ayat 83.
”(Ingatlah) Ayyub ketika dia berdoa kepada Tuhannya, ’(Ya Tuhanku,) sesungguhnya aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.”
Allah menjawab...
Allah menjawab doa tersebut dengan sebuah instruksi untuk menghentakkan kaki nabi Ayyub ke bumi. Dari hentakkan itu, muncul mata air mukjizat yang sejuk untuk mandi dan minum.
Seketika, kesehatan Nabi Ayyub pulih sempurna. Perubahan fisiknya begitu drastis hingga Rahma tidak mengenali suaminya sendiri saat kembali, bahkan sempat mengira suaminya telah dibawa lari binatang buas.
Pemulihan Ayyub diikuti dengan kembalinya kekayaan yang berlipat ganda. Dalam sebuah hadis, dikisahkan awan menurunkan emas dan koin perak ke lumbung milik Ayyub. Bahkan, saat sedang mandi, kaki-kaki belalang emas jatuh dari langit di hadapannya.
Mengenai sumpah mencambuk istrinya, Allah memberikan jalan keluar yang sangat lembut. Agar sumpahnya tertunaikan tanpa harus menyakiti sosok setia yang telah merawatnya, Allah memerintahkan Ayyub mengambil seikat rumput (seratus helai) dan memukulkannya sekali kepada Rahma.
Berbagai sumber menyebutkan, setelah masa pemulihan, kehidupan Nabi Ayyub kembali harmonis.
Nabi Ayyub wafat dalam kedamaian. Ada pendapat yang menyebutkan usianya mencapai 93 tahun, sementara pendapat lain mengatakan beliau hidup hingga 140 tahun dan sempat melihat keturunannya hingga generasi keempat.