Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jakarta – Dalam catatan sejarah para Nabi, nama Ayyub AS berdiri tegak sebagai simbol ketabahan yang tak tertandingi. Kisah hidupnya bukan sekadar dongeng masa lalu, melainkan potret nyata bagaimana keimanan diuji melalui titik nadir kehidupan.

Pada mulanya, Nabi Ayyub AS adalah seorang bangsawan kaya raya di wilayah Huran, Syam (negeri Tsaniyah). Ulama ahli tafsir dan sejarah, termasuk Ibnu Asakir mencatat, Nabi Ayyub memiliki aset tanah yang sangat luas, ribuan hewan ternak, serta keluarga yang harmonis.

Namun, atas kehendak Allah SWT, semua kemegahan itu sirna dalam sekejap. Nabi Ayyub mendapatkan ujian dari Allah.

Ujian tidak berhenti pada hilangnya harta. Nabi Ayyub ditimpa penyakit kulit yang sangat parah di sekujur tubuhnya. Penyakit ini membuat orang-orang di sekitarnya, baik kerabat maupun sahabat karib, merasa jijik dan menjauh.

Meski jasadnya dipenuhi penderitaan, Nabi Ayyub menjaga dua hal agar tetap sehat, yakni hati dan lisannya. Beliau tak pernah berhenti berzikir dan bertasbih memuji Allah, siang maupun malam.

Dalam pengasingannya di sebuah tempat kumuh di pinggir kota, hanya sang istri yang setia menemani. Wanita mulia ini bekerja keras menjadi buruh upahan demi menyambung hidup dan merawat suaminya.

Mayoritas ulama menyebut nama istri Nabi Ayyub adalah Rahma binti Efraim bin Yusuf bin Ya'qub. Ia bukan sekadar pendamping, melainkan tulang punggung keluarga di masa-masa paling kelam.

Ketika penyakit kulit yang diderita Nabi Ayyub semakin parah, status sosial mereka jatuh hingga ke titik nadir. Rahma terpaksa bekerja sebagai pembantu demi mencari sesuap nasi.

Stigma...

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Religi Terkini

Terpopuler