Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Pada masa awal berdirinya, bangunan masjid hanya memiliki satu tiang utama atau soko tunggal yang menyangga atap sehingga bentuknya menyerupai payung.

Seiring perjalanan waktu, masjid tersebut mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama tidak diketahui secara pasti waktunya, sementara pemugaran kedua diperkirakan terjadi pada tahun 1209 Hijriah.

Menurut Wafiy, pada saat pembongkaran kayu di awal pemugaran tersebut, ditemukan tulisan Arab di bagian bawah mustaka masjid yang berbunyi “Ghorotho”.

”Bila dihitung huruf Ghorotho, gho bernilai 1.000, ro 200, dan tho 9. Dengan condro rupaning panembah pendhitaning ngayu, ini bermakna tahun 1209 Hijriah,” jelasnya, saat ditemui, Senin (16/3/2026).

Setelah pemugaran tersebut, struktur bangunan masjid juga berubah dari soko tunggal (satu tiang penyangga) menjadi soko papat (empat tiang penyangga) atau empat tiang penyangga seperti yang terlihat sekarang.

Di sekitar kawasan masjid juga terdapat sumber mata air yang dikenal masyarakat sebagai Belik Suro. Sumber air ini dipercaya sudah ada sejak masa dakwah Raden Muhammad Syarif dan hingga kini masih dimanfaatkan oleh warga sekitar.

Bagi masyarakat Padurenan, Belik Suro tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga bagian dari jejak sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut. Airnya dikenal jernih dan tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau.

Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Asy Syarif 1 juga menjadi pusat berbagai tradisi keagamaan masyarakat. Salah satunya adalah tradisi Maulidan Jawian, yakni pembacaan kisah Nabi Muhammad SAW dalam kitab Al-Barzanji dengan langgam atau cengkok Jawa.

Tradisi...

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Religi Terkini

Terpopuler