Masjid tersebut didirikan oleh Raden Muhammad Syarif, tokoh penyebar Islam yang dikenal sebagai putra Adipati Sumenep dengan julukan Macan Wulung.
Ia juga merupakan santri dari Sunan Giri, salah satu ulama besar yang berperan dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.
Ia menempuh perjalanan laut menuju Pulau Jawa dan mendarat di pesisir Jepara sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah Kudus utara.
Menurutnya, perjalanan dakwah tersebut turut meninggalkan jejak dalam berbagai nama-nama desa yang dilalui hingga akhirnya Raden Muhammad Syarif menetap di Padurenan dan mendirikan masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Asy Syarif 1.
Meski telah berusia ratusan tahun, bentuk dasar masjid masih dipertahankan hingga sekarang, meskipun sempat mengalami pemugaran.
Murianews, Kudus – Di Desa Padurenan, Kecamatan Gebog, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, berdiri sebuah masjid tua yang hingga kini masih menjadi pusat kegiatan keagamaan masyarakat.
Masjid itu adalah Masjid Asy Syarif 1, peninggalan seorang ulama asal Madura yang diyakini telah berdiri sekitar abad ke-16.
Masjid tersebut didirikan oleh Raden Muhammad Syarif, tokoh penyebar Islam yang dikenal sebagai putra Adipati Sumenep dengan julukan Macan Wulung.
Ia juga merupakan santri dari Sunan Giri, salah satu ulama besar yang berperan dalam penyebaran Islam di tanah Jawa.
Ketua Takmir Masjid Asy Syarif 1 Padurenan, Ahmad Wafiy Baq, menjelaskan perjalanan dakwah Raden Muhammad Syarif dimulai dari Madura.
Ia menempuh perjalanan laut menuju Pulau Jawa dan mendarat di pesisir Jepara sebelum melanjutkan perjalanan ke wilayah Kudus utara.
Menurutnya, perjalanan dakwah tersebut turut meninggalkan jejak dalam berbagai nama-nama desa yang dilalui hingga akhirnya Raden Muhammad Syarif menetap di Padurenan dan mendirikan masjid yang kini dikenal sebagai Masjid Asy Syarif 1.
Meski telah berusia ratusan tahun, bentuk dasar masjid masih dipertahankan hingga sekarang, meskipun sempat mengalami pemugaran.
Awal berdiri...
Pada masa awal berdirinya, bangunan masjid hanya memiliki satu tiang utama atau soko tunggal yang menyangga atap sehingga bentuknya menyerupai payung.
Seiring perjalanan waktu, masjid tersebut mengalami dua kali pemugaran. Pemugaran pertama tidak diketahui secara pasti waktunya, sementara pemugaran kedua diperkirakan terjadi pada tahun 1209 Hijriah.
Menurut Wafiy, pada saat pembongkaran kayu di awal pemugaran tersebut, ditemukan tulisan Arab di bagian bawah mustaka masjid yang berbunyi “Ghorotho”.
”Bila dihitung huruf Ghorotho, gho bernilai 1.000, ro 200, dan tho 9. Dengan condro rupaning panembah pendhitaning ngayu, ini bermakna tahun 1209 Hijriah,” jelasnya, saat ditemui, Senin (16/3/2026).
Setelah pemugaran tersebut, struktur bangunan masjid juga berubah dari soko tunggal (satu tiang penyangga) menjadi soko papat (empat tiang penyangga) atau empat tiang penyangga seperti yang terlihat sekarang.
Di sekitar kawasan masjid juga terdapat sumber mata air yang dikenal masyarakat sebagai Belik Suro. Sumber air ini dipercaya sudah ada sejak masa dakwah Raden Muhammad Syarif dan hingga kini masih dimanfaatkan oleh warga sekitar.
Bagi masyarakat Padurenan, Belik Suro tidak hanya menjadi sumber air, tetapi juga bagian dari jejak sejarah penyebaran Islam di wilayah tersebut. Airnya dikenal jernih dan tidak pernah kering meskipun pada musim kemarau.
Selain sebagai tempat ibadah, Masjid Asy Syarif 1 juga menjadi pusat berbagai tradisi keagamaan masyarakat. Salah satunya adalah tradisi Maulidan Jawian, yakni pembacaan kisah Nabi Muhammad SAW dalam kitab Al-Barzanji dengan langgam atau cengkok Jawa.
Tradisi...
Tradisi tersebut biasanya dilaksanakan saat peringatan Maulid Nabi dan masih terus dilestarikan hingga sekarang sebagai bagian dari warisan budaya keagamaan masyarakat setempat.
Masyarakat Padurenan juga rutin menggelar haul Raden Muhammad Syarif sebagai bentuk penghormatan kepada tokoh penyebar Islam tersebut. Haul dilaksanakan setiap Legi akhir bulan Muharram dalam penanggalan Jawa.
Pada momen itu, masyarakat biasanya menggelar berbagai kegiatan keagamaan mulai dari ziarah makam, pembacaan tahlil, khataman Al-Qur’an hingga pengajian yang dihadiri jamaah dari berbagai daerah.
Di balik sejarah dan tradisi yang masih dijaga, Masjid Asy Syarif 1 juga dikenal dengan cerita yang berkembang di kalangan masyarakat terkait mustoko atau puncak atap masjid yang terbuat dari tanah liat.
Menurut Wafiy, warga sejak dulu sering mengaitkan kondisi mustoko dengan peristiwa besar yang terjadi di Indonesia sebagai bentuk keprihatinan terhadap kondisi bangsa.
Beberapa peristiwa yang kerap disebut masyarakat antara lain saat gejolak nasional pada masa peristiwa G30SPKI tahun 1965, kemudian ketika Presiden Soeharto lengser pada 1998, hingga saat Presiden Abdurrahman Wahid atau Gus Dur dimakzulkan pada 2001.
Fenomena serupa juga terpantau oleh Wafiy pada 2004 yang dikaitkan dengan bencana besar tsunami Aceh kala itu.
Namun peristiwa berbeda terjadi menjelang pandemi Covid-19. Wafiy menyebutkan sekitar tiga bulan sebelum pandemi melanda Indonesia, bagian mustaka masjid justru mengalami kerusakan atau rontok.
”Mustoko miring saja sudah membuat geger. Ini sampai protol. Kami bahkan tidak langsung melakukan perbaikan karena merasa ini mungkin lebih parah daripada kemiringan,” katanya.
Mustoko...
Wafiy menjelaskan, bahwa mustoko tetap dijaga keasliannya. Dengan mempertimbangkan terjadinya kemiringan dan protolnya mustoko masjid yang dapat memprediksi fenomena-fenomena keprihatinan nasional bangsa.
Meski demikian, ia menegaskan kepada masyarakat tidak memaknainya secara berlebihan. Bagi mereka, kisah tersebut lebih dipandang sebagai pengingat agar masyarakat selalu introspeksi dan mendoakan kondisi bangsa.
”Wallahualam. Tapi bagi kami ini menjadi pengingat agar selalu mawas diri dan mendoakan keadaan bangsa,” ujarnya.
Reporter: Wiwid Widia Yulhendrik
Editor: Cholis Anwar