Ilmu agama tidak lagi eksklusif milik mereka yang punya waktu luang untuk hadir secara fisik, tetapi milik siapa saja yang memiliki koneksi internet.
Dalam hal ini, tentu merupakan fenomena yang positif karena teknologi benar-benar dapat dimanfaatkan untuk kemudahan mengakses pengetahuan agama bagi siapa saja yang memang dikondisikan tidak dapat hadir langsung untuk mendapatkan pencerahan ruhani melalui majelis taklim.
Bagi para pendakwah baik personal maupun institusional, menjadikan teknologi virtual zoom sebagai media syiar dakwah yang lebih luas dan menjadi solusi di saat kondisi yang tidak memungkinkan hadir langsung untuk menjadi narasumber majelis taklim.
Namun, satu hal yang penting untuk menjadi renungan dan evaluasi diri dengan adanya fenomena maraknya “mengaji” di majleis taklim melaluai zoom. Kemudahan ini membawa tantangan baru yang serius, yakni potensi memudarnya kekhusyukan dan perhatian terhadap adab.
Saat kita hadir secara fisik di majelis taklim, ada atmosfer spiritual yang mengkondisikan kita untuk fokus dan menjaga akhlak serta etika di tengah kebersamaan dengan sesama jamaah dan di hadapan seorang penceramah atau guru.
Kita tidak mungkin sambil makan besar, tiduran, atau asyik membalas pesan WhatsApp di depan sang penceramah. Meskipun tidak bisa dipungkiri fenomena “nyambi ber-WA juga sudah menggejala dalam suasana “mengaji’ secara langsung di moment-moment pengajian Majelis taklim.
Namun, lebih besar peluang godaannya untuk “nyambi” dibalik layar Zoom yang kameranya dimatikan (off-cam).
DULU, menghadiri majelis taklim berarti sebuah perjalanan fisik yang didasari oleh motivasi untuk mendapatkan pencerahan dan keberkahan ilmu.
Ada makna tersendiri dengan kehadiran langsung di hadapan seorang guru/penceramah penyampai materi majelis taklim, atau umumnya jemaah menyebutnya dengan “ngalap berkah”.
Tidak hanya itu, juga ada harapan bisa bersilaturrahim dengan para jemaah lainnya. Ada persiapan mengenakan pakaian terbaik, langkah kaki menuju masjid atau lokasi majlis taklim hingga perjuangan mencari tempat duduk di tengah kerumunan jemaah.
Ada motivasi keutamaan nilai dari perjalanan menuju majlis taklim sebagai sarana mendapatkan ilmu dan penguatan keagamaan. Dan, ada kepuasan batin yang mungkin tidak tergambarkan ketika mendapatkan moment dengan harapan keberkahan, bertatap muka langsung dengan seorang Kyai/penceramah, serta silaturrahim dengan sesama jamaah.
Namun sekarang, ada perubahan fenomena dimana gegap semangat untuk menghadiri majlis taklim menjadi pudar dan seakan bukan jalan satu-satunya untuk bisa mendapatkan pencerahan agama.
Tidak hanya di lingkungan masyarakat perkotaan, bahkan di lingkungan pedesaan pun tidak luput dari fenomena tersebut.
Hal itu dikarenakan adanya alternatif menghadiri majlis taklim secara online (daring). Tidak hanya di dunia pendidikan yang marak dengan seminar atau workshop online melalui zoom, kini sudah merambah pada aktivitas “pengajian majelis taklim online”.
Cukup dengan satu klik di aplikasi Zoom atau membuka siaran langsung (live streaming) di channel YouTube, ruang tamu atau di manapun kita berada, seketika berubah menjadi ruang pengajian virtual dimana kita bisa mengikuti ceramah agama bersamaan melakukan aktivitas lain.
Fenomena ini membawa kita pada satu titik renung: Di era digital ini, apakah kita sedang menikmati semakin mudahnya jalan menuntut ilmu dan pencerahan agama, atau di sisi lain, kita sedang tanpa disadari mendegradasi makna dari sebuah majelis?
Dakwah Tanpa Batas: Sebuah Anugerah
Memang tidak bisa kita memungkiri bahwa teknologi adalah salah satu anugerah besar bagi aktivitas dakwah. Dalam dinamikanya, kegiatan dakwah berjalan sinergis mengiringi perkembangan teknologi dan digitalisasi yang begitu pesat.
Kehidupan di masyarakat pun kini digital sudah menjadi bagian dari gaya hidup, hampir semua aspek kehidupan tidak bisa melepaskan diri dari digitalisasi.
Nuansa Ramadan juga kini tidak hanya diramaikan dengan suasana maraknya kegiatan ibadah dan kepedulian masyarakat terhadap aktivitas yang akan mendatangkan keberkahan, tetapi juga maraknya suasana virtual yang menampilkan moment-moment Ramadan.
Kita bisa melihat berbagai momen kultum atau ceramah menjelang berbuka dan bersahur yang bisa diikuti dimanapun kita berada. Seolah Majelis taklim secara daring dengan berbagai media aplikasi meruntuhkan tembok pembatas jarak, waktu, dan fisik.
Seseorang yang tinggal di pelosok kini bisa menyimak ilmu langsung dari guru-guru besar di kota; para ibu rumah tangga bisa belajar agama sambil menjaga buah hati di rumah; para pekerja kantoran bisa menyimak siraman rohani di tengah kemacetan lewat gawai mereka.
Dalam titik ini, media virtual seperti Zoom, streaming, atau channel you tube adalah "jembatan" yang memperluas jangkauan untuk menyambut hidayah dan mempermudah akses mendapatkan siraman ruhani.
Ilmu agama tidak lagi eksklusif milik mereka yang punya waktu luang untuk hadir secara fisik, tetapi milik siapa saja yang memiliki koneksi internet.
Dalam hal ini, tentu merupakan fenomena yang positif karena teknologi benar-benar dapat dimanfaatkan untuk kemudahan mengakses pengetahuan agama bagi siapa saja yang memang dikondisikan tidak dapat hadir langsung untuk mendapatkan pencerahan ruhani melalui majelis taklim.
Bagi para pendakwah baik personal maupun institusional, menjadikan teknologi virtual zoom sebagai media syiar dakwah yang lebih luas dan menjadi solusi di saat kondisi yang tidak memungkinkan hadir langsung untuk menjadi narasumber majelis taklim.
Jebakan "Nyambi" dan Hilangnya Adab
Namun, satu hal yang penting untuk menjadi renungan dan evaluasi diri dengan adanya fenomena maraknya “mengaji” di majleis taklim melaluai zoom. Kemudahan ini membawa tantangan baru yang serius, yakni potensi memudarnya kekhusyukan dan perhatian terhadap adab.
Saat kita hadir secara fisik di majelis taklim, ada atmosfer spiritual yang mengkondisikan kita untuk fokus dan menjaga akhlak serta etika di tengah kebersamaan dengan sesama jamaah dan di hadapan seorang penceramah atau guru.
Kita tidak mungkin sambil makan besar, tiduran, atau asyik membalas pesan WhatsApp di depan sang penceramah. Meskipun tidak bisa dipungkiri fenomena “nyambi ber-WA juga sudah menggejala dalam suasana “mengaji’ secara langsung di moment-moment pengajian Majelis taklim.
Namun, lebih besar peluang godaannya untuk “nyambi” dibalik layar Zoom yang kameranya dimatikan (off-cam).
Ilmu dan pengetahuan dari materi yang disampaikan penceramah dalam majlis taklim bisa saja terserap secara kognitif di otak, tetapi apakah ia juga meresap ke dalam hati?
Dalam tradisi Islam, belajar bukan sekadar transfer informasi (transfer of knowledge), tetapi juga transfer cahaya (nur) dan adab. Keberkahan sebuah majelis seringkali terletak pada kesungguhan langkah kaki dan ketawadluan seorang murid saat bertatap muka langsung dengan gurunya.
Digital adalah Sarana, Bukan Pengganti Sepenuhnya
Sebagaimana hakekat makna dari teknologi sebagai alat atau media untuk menghantarkan pencapaian suatu tujuan. Majelis taklim virtual melalui zoom, juga seharusnya sebagai sarana pelengkap, bukan pengganti total dari pemenuhan kebutuhan “ngaji” dan pendalaman pengetahuan keagamaan.
Ia adalah solusi saat jarak tak terjangkau atau kondisi tak memungkinkan untuk hadir langsung pada sebuah majlis. Namun, jika kita memiliki kesempatan untuk hadir secara fisik tapi lebih memilih layar hanya karena alasan malas, di situlah kita kehilangan sesuatu yang berharga.
Ada energi kolektif yang tidak bisa digantikan oleh sinyal WiFi. Ada rasa persaudaraan saat bersalaman dengan sesama jemaah, dan ada ketenangan yang turun saat malaikat menaungi majelis yang dihadiri secara fisik.
Majelis taklim di era Zoom adalah tantangan bagi kesungguhan kita. Apakah kita menggunakan teknologi untuk semakin haus akan ilmu, atau justru membuat kita menjadi penuntut ilmu yang "manja" dan kehilangan adab?
Mari jadikan siaran langsung sebagai sarana untuk terus mengisi gelas jiwa kita yang kosong di sela kesibukan. Namun, jangan pernah melupakan jalan menuju masjid, jalan menuju majelis taklim.
Karena pada akhirnya, se-canggih apa pun media virtual kita, ia tidak akan pernah bisa menggantikan pancaran keberkahan yang terpancar dari tatapan mata dan kedekatan fisik dalam sebuah majelis ilmu. Wallaahu a’lam bil-shawab. (*)