Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

 

PUKUL 04.15, gelas air hangat masih berembun, dan sahur tinggal beberapa suap. Di meja, ponsel bergetar pelan, lalu bunyinya menyusul lagi, lagi, dan lagi. Ada pesan grup, potongan video, kabar politik, promo belanja, hingga peringatan berita terbaru.

Di detik seperti itu, imsak terasa sebagai batas untuk perut sekaligus pagar bagi arus informasi yang hendak masuk ke pikiran. Ia menjadi tanda bahwa menahan diri tidak semata perkara yang masuk ke tubuh, melainkan juga perkara apa yang dibiarkan singgah di benak.

Saat tubuh bersiap mengencangkan disiplin, perhatian diuji oleh dunia yang tidak pernah benar-benar tidur. Fajar lalu hadir sebagai peralihan antara dua rezim perhatian, satu rezim yang menuntut kesadaran, dan satu rezim yang memancing keterhanyutan.

Herbert A. Simon pernah menulis, “a wealth of information creates a poverty of attention.” Ungkapan ini menyorot paradoks era digital ketika informasi melimpah justru mengikis kapasitas manusia untuk fokus.

Setiap tautan, notifikasi, dan potongan kabar menuntut sejumput perhatian, sehingga energi mental cepat terkuras meski durasi menatap layar terasa singkat.

Dalam logika Simon, kelangkaan bukan lagi pada informasi, melainkan pada atensi, karena atensi adalah biaya yang harus dibayar setiap kali kita menerima informasi.

Ketika pasokan informasi meningkat tanpa batas, kompetisi untuk merebut atensi menjadi semakin agresif, dan akibatnya kita lebih mudah terdistraksi, lebih cepat lelah, serta lebih sulit mempertahankan konsentrasi yang mendalam.

Di sini orang kerap merasa selalu tertinggal, padahal yang tertinggal sering kali kemampuan untuk memahami secara jernih, bukan sekadar mengetahui secara cepat.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Religi Terkini

Terpopuler