Ramadan 2024
Menganal Mbah Shobib Jepara, Sang Presiden Sarkub Nusantara
Faqih Mansur Hidayat
Selasa, 26 Maret 2024 12:37:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Murianews, Jepara – Di Kabupaten Jepara, Jawa Tengah ada sosok kiai yang dikenal dengan sebutan Presiden Sarkub (Santri Kuburan) Nusantara. Sosok itu akrab dipanggil Mbah Shobib.
Nama aslinya, Kiai Shobiburrohman. Ia merupakan kiai dari Desa Menganti, Kecamatan Kedung, Kabupaten Jepara. Penampilannya nyentrik membuatnya dikenal di Nusantara ini.
Berambut gondrong berjenggot tipis dipadukan jaket kulit dan peci lusuh menjadi ciri khas Mbah Shobib. Sekilas penampilannya tak mencitrakan seorang kiai yang acap kali tampil pakai pakaian putih bersih.
Peneliti Mbah Shobib, Murtadho Hadi menceritakan, Mbah Shobib kerap disowani banyak santri dan masyarakat. Mbah Shobib kerap bertanya asal usul mereka.
Setelah mendapatkan jawaban, Mbah Shobib kerap memperkenalkan diri dengan ucapan ”Kalau saya ini Sarkub!”.
”Begitulah yang saya dengar. Mbah Shobib kerap mengenalkan dirinya Sarkub. Santri Kuburan atau Sarjana Kuburan. Jujur saya pertama kali mendengar istilah Sarkub memang dari lisan beliau,” ucap penulis buku berjudul ”Tiga Sufi Tanah Jawa” itu.
Murtadho menjelaskan, sejak muda Mbah Shobib memang sudah meninggalkan kampung halamannya. Mbah Shobib mengembara guna memperdalam ilmu agama.
Menurut Murtadho, Sarkub awal mulanya adalah metode atau gerakan para sufi dalam riyadhah (menghajar dan mendidik nakalnya nafsu) dalam pengasingan diri (khalwat dan uzlah).
Ia juga kerap menyamar (khumul) agar hati menjadi lapang dalam berdzikir. Dan hatipun lebih lembut dan lebih siap menerima cahaya dari karnia illahi.
Menurut Murtadho, Sarkub juga sebagai gerakan para sufi. Dalam sejarah peradaban Islam memang ada gerakan moril, yaitu ketika para sufi mengambil jarak secara fisik maupun rohani dengan para penguasa, serta raja-raja dari dinasti kekhalifahan.
Para sufi pun banyak tinggal di tanah-tanah tak bertuan, bahkan di kuburan untuk mengasingkan diri atau mengambil jarak dengan para penguasa.
Murtadho mengatakan, jasa-jasa Mbah Shobib terlihat saat para pakar geologi, pakar kebudayaan dan sejarah, kerap buntu dan ambigu melihat sesuatu.
Mbah Shobib berjasa besar bagi keilmuan itu. Jejak-jejak dan karya Mbah Shobib banyak mewarnai situs-situs makam. Mulai dari pejajahan Jawa Timur, Jawa Tengah dan Jawa Barat.
”Ini yang terdeteksi dan saya ketahui. Walaupun kalau merunut perjalanan yang saya dengar, beliau telah menginjakkan kakinya di sepanjang pulau-pulau di Nusantara,” katanya.
Salah satu yang dilakukan Mbah Sobib yakni menemukan sumber mata air di wilayah Pati, Purwodadi, Bojonegoro hingga Jombang dan Jogja sudah dilakukan sejak muda.
Mbah Shobib juga kerap menanam pohon-pohon seperti pohon mangga, kelapa di hampir setiap situs makam di pulau jawa. Langkah itu pun ia lakukan sebelum ramainya kampanye cinta lingkungan atau aksi penanaman pohon yang dilakukan sejumlah pihak.
Lalu ketika para pakar sejarah sering buntu menggenapi catatan nasab dan silsilah, yaitu sebuah babak terpenting dari dokumentasi sejarah, maka si-pemilik arbabul-bashiroh, Mbah Shobib Jepara adalah pakarnya dan sosok yang mempunyai otoritas untuk itu.
Misalnya ketika Mbah Muhaiminan Parakan dan Habib Luthfi bin Yahya pernah dimintai untuk catatan nasab dan silsilah, beliau tak segan-segan menganjurkan kepada si penanya untuk menanyakan kepada Mbah Shobib Jepara.
Maka tak heran pula, di tahun 2002 Sang Presiden RI ke-4, KH Abdurrahman Wahid (Gus Dur) menyempatkan diri sowan ke ndalem Mbah Shobib, yang sayangnya belum ada data.
”Selain guyon dan temu kangen apa saja yang diperbincangkan jika kedua Sarkub itu bertemu,” ujar Murtadho.
Editor: Zulkifli Fahmi




