Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jakarta – Dalam khazanah sejarah Islam, kisah Nabi Yunus AS merupakan salah satu mukjizat paling istimewa yang diberikan Allah SWT.

Perjalanan spiritual beliau, terutama saat berada di dalam perut ikan besar, menjadi pembelajaran mendalam bagi umat manusia tentang pentingnya kesabaran dan keteguhan hati dalam menghadapi ketetapan Tuhan.

Nabi Yunus AS adalah utusan mulia yang mendapatkan mandat untuk berdakwah kepada kaum Ninawa.

Namun, keras kepalanya kaum tersebut membuat sang nabi merasa putus asa hingga memutuskan untuk pergi meninggalkan mereka tanpa izin eksplisit dari Allah SWT.

Lari dari kaumnya, Nabi Yunus AS menuju pesisir dan menaiki sebuah kapal yang penuh muatan.

Keajaiban mulai terjadi saat kapal tersebut mendadak berhenti di tengah laut, sementara kapal-kapal lain di sekelilingnya tetap berlayar normal. Guncangan hebat pun terjadi, membuat para penumpang diliputi ketakutan akan tenggelam.

Nabi Yunus AS menyadari bahwa kondisi tersebut adalah akibat keberadaan dirinya yang ”melarikan diri” dari perintah Tuhannya.

Beliau kemudian menawarkan diri untuk dilepaskan ke laut guna menyelamatkan penumpang lain. Melalui proses undian yang dilakukan hingga tiga kali, nama Nabi Yunus AS selalu muncul sebagai orang yang harus meninggalkan kapal.

Ikan besar...

Begitu menceburkan diri, tubuh sang nabi langsung disambar oleh seekor ikan besar. Al-Qur'an menggambarkan situasi ini sebagai keadaan ”tercela” karena beliau meninggalkan tugas dakwah dalam kondisi kesal. Hal ini sebagaimana dijelaskan dalam Al Qur’an Surat Ash-Shaffat ayat 142.

Di dalam perut ikan yang membawanya ke dasar laut, Nabi Yunus AS berada dalam tiga kegelapan: kegelapan malam, kegelapan laut, dan kegelapan perut ikan. Alih-alih binasa, Allah SWT memerintahkan ikan tersebut untuk tidak melukai hamba-Nya.

Dalam keheningan itu, Nabi Yunus AS mendengar tasbih kerikil dan makhluk laut lainnya. Beliau pun bersimpuh seraya memanjatkan doa yang kini menjadi dzikir mustajab bagi umat Muslim:

”Lā ilāha illā anta subḥānaka innī kuntu minaẓ-ẓālimīn”

(Tidak ada Tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau, sesungguhnya aku adalah termasuk orang-orang yang zalim).

Berkat tasbih dan taubatnya, Allah SWT menyelamatkan Nabi Yunus AS. Sebagaimana ditegaskan dalam Al-Qur'an, andai beliau tidak termasuk orang yang banyak mengingat Allah, niscaya beliau akan tetap berada di perut ikan hingga hari kebangkitan.

Ikan tersebut akhirnya memuntahkan Nabi Yunus AS di sebuah daerah tandus dalam keadaan sakit dan kulit yang sangat sensitif. Allah SWT kemudian menumbuhkan pohon sejenis labu untuk melindungi dan memberi makan sang nabi.

Teguran terakhir datang saat pohon tersebut mengering dan membuat Nabi Yunus AS menangis.

Allah SWT berfirman bahwa jika beliau bisa menangisi sebuah pohon, maka beliau seharusnya lebih mengasihi seratus ribu orang (kaum Ninawa) yang sebelumnya hendak beliau binasakan.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Religi Terkini

Terpopuler