Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jakarta – Dalam deretan nabi dan rasul Allah SWT, kisah Nabi Yakub AS menonjol sebagai narasi tentang keteguhan hati di tengah badai ujian keluarga.

Sebagai nabi ke-10 yang wajib diimani, perjalanan hidupnya dari lahir hingga wafat memberikan pelajaran abadi mengenai kecerdasan, keuletan, dan cinta kasih yang mendalam.

Nabi Yakub AS terpilih sebagai utusan Allah bukan tanpa alasan. Merujuk pada buku Kisah Menakjubkan 25 Nabi karya Ariany Syurfah (2008), beliau dikenal memiliki keistimewaan berupa ilmu yang luas, akhlak yang luhur, serta semangat juang tinggi dalam berdakwah.

Nabi Yakub AS merupakan putra dari Nabi Ishaq AS dan cucu dari Nabi Ibrahim AS. Beliau lahir bersama saudara kembarnya yang bernama Al-Aish. Sejak usia dini, Yakub telah menunjukkan perangai terpuji yang memikat hati kedua orang tuanya.

Namun, keistimewaan sifat Yakub ini memicu api cemburu pada hati Al-Aish. Rasa iri yang kian memuncak berubah menjadi ancaman terhadap keselamatan Yakub.

Guna menghindari konflik persaudaraan yang lebih parah, Nabi Ishaq dan ibundanya memutuskan untuk mengirim Yakub ke kediaman sang paman, Laban, yang berlokasi di Babylon, Irak. Di sana, Yakub kemudian diangkat menjadi anak oleh pamannya tersebut.

Di tanah perantauan, Nabi Yakub menunjukkan dedikasi dan keuletannya. Beliau jatuh hati kepada putri bungsu Laban, Rahel. Namun, tradisi setempat mengharuskan seorang pria menikahi putri sulung terlebih dahulu.

Laban pun meminta Yakub menikahi Layya, sang putri sulung, dengan mahar bekerja selama tujuh tahun.

12 anak...

Demi mendapatkan Rahel, Yakub kembali bekerja selama tujuh tahun berikutnya. Dari pernikahannya dengan Layya, Rahel, serta dua hamba sahaya pemberian Laban, Nabi Yakub dikaruniai 12 orang putra. Keturunan inilah yang kelak menjadi cikal bakal dari dua belas suku Bani Israil.

Sebagai seorang ayah, Nabi Yakub dikenal sangat bijaksana dan penyayang. Namun, perhatian khusus yang beliau berikan kepada Nabi Yusuf AS, putra dari Rahel yang memiliki keistimewaan luar biasa.

Tragedi terjadi ketika saudara-saudara Yusuf merencanakan tipu muslihat untuk menyingkirkannya. Selama puluhan tahun, Nabi Yakub didera kesedihan yang amat dalam hingga ia mengalami kebutaan akibat terlalu banyak menangis.

Meski demikian, beliau tidak pernah berputus asa dari rahmat Allah. Beliau tetap memegang teguh kesabaran dan kepercayaan penuh bahwa Allah akan menyatukan kembali keluarganya.

Keyakinan Nabi Yakub akhirnya berbuah manis. Dengan izin Allah, beliau berhasil bersatu kembali dengan Yusuf AS yang saat itu telah menjadi pejabat tinggi di Mesir. Kebutaan beliau pun sembuh berkat mukjizat melalui baju Nabi Yusuf.

Nabi Yakub AS menghabiskan masa tuanya di Mesir bersama anak-cucunya dalam kedamaian.

Beliau wafat dalam usia lanjut dan sesuai wasiatnya, jenazahnya dibawa ke Hebron untuk dimakamkan berdampingan dengan makam sang ayah, Nabi Ishaq AS, dan kakeknya, Nabi Ibrahim AS.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Religi Terkini

Terpopuler