Dipicu oleh sayembara dari janda kaya raya, dua orang lelaki bernama Mushadda’ bin Mukharrij dan Gudar bin Salif, dibantu tujuh orang lainnya, menyusun siasat untuk menghabisi unta mukjizat tersebut.
Setelah unta itu berhasil dibunuh, bukannya bertaubat, kaum Tsamud malah menantang Nabi Saleh AS untuk segera mendatangkan azab yang dijanjikan.
Nabi Saleh AS memberikan peringatan terakhir bahwa azab akan datang dalam tiga hari. Pada hari pertama, wajah kaum yang ingkar berubah menjadi kuning, hari kedua menjadi merah, dan hari ketiga menghitam.
Pada hari keempat, janji Allah SWT pun tiba. Suara menggelegar dari langit disertai gempa bumi yang dahsyat meluluhlantakkan negeri Al-Hijr. Kaum Tsamud yang sombong mati bergelimpangan di dalam reruntuhan tempat tinggal mereka sendiri tanpa sisa.
Namun, sebagaimana dijanjikan dalam Al-Qur'an Surat Hud ayat 66, Allah SWT menyelamatkan Nabi Saleh AS dan para pengikutnya yang beriman berkat rahmat-Nya.
Murianews, Jakarta – Setelah membahas tentang Nabi Hud dengan kesabaran dan kekuatannya menghadapi kaumnya untuk menyerukan agama Allah, kini kisah selanjutnya adalah pada Nabi Saleh dengan kaumnya, yakni yang dikenal dengan bangsa Tsamud.
Nabi Saleh AS merupakan nabi kelima dalam silsilah kenabian Islam, yang masih memiliki garis keturunan dari Nabi Nuh AS. Beliau diutus Allah SWT kepada kaum Tsamud, suku bangsa Arab yang mendiami wilayah Al-Hijr, kawasan strategis di antara Hijaz dan Syam.
Kaum Tsamud dikenal sebagai masyarakat yang sangat makmur. Tanah mereka subur, ternak mereka gemuk, dan mereka memiliki keahlian arsitektur yang luar biasa. Sebagaimana termaktub dalam Al-Qur'an Surat Al-Fajr ayat 9, mereka adalah bangsa yang mampu memotong batu-batu besar di lembah untuk dijadikan tempat tinggal yang megah.
Namun, di balik kemegahan itu, mereka terjerumus dalam penyembahan berhala nenek moyang. Nabi Saleh AS, yang dikenal bijaksana dan berasal dari keluarga terpandang, muncul di tengah mereka untuk membawa risalah tauhid.
Namun, ajakan tersebut justru menuai penolakan dan tuduhan bahwa beliau adalah seorang pembohong.
Guna membuktikan kenabiannya, kaum Tsamud menantang Nabi Saleh AS untuk mendatangkan mukjizat yang tidak masuk akal, yakni seekor unta betina hamil 10 bulan yang keluar dari dalam batu besar.
Atas izin Allah SWT, tantangan tersebut terpenuhi. Seekor unta mukjizat muncul setelah Nabi Saleh AS menepuk batu yang ditunjuk. Unta ini kemudian menjadi ujian bagi kaum Tsamud. Mereka diwajibkan berbagi air sumur dengan unta tersebut secara bergantian dan dilarang keras untuk menyakitinya.
Keajaiban unta yang susunya tak pernah habis diperah ini sempat membagi kaum Tsamud menjadi dua golongan, mereka yang akhirnya beriman dan mereka yang tetap membangkang.
Merasa terancam...
Golongan yang menentang ajaran Nabi Saleh AS merasa terancam dengan semakin banyaknya pengikut nabi.
Dipicu oleh sayembara dari janda kaya raya, dua orang lelaki bernama Mushadda’ bin Mukharrij dan Gudar bin Salif, dibantu tujuh orang lainnya, menyusun siasat untuk menghabisi unta mukjizat tersebut.
Setelah unta itu berhasil dibunuh, bukannya bertaubat, kaum Tsamud malah menantang Nabi Saleh AS untuk segera mendatangkan azab yang dijanjikan.
Nabi Saleh AS memberikan peringatan terakhir bahwa azab akan datang dalam tiga hari. Pada hari pertama, wajah kaum yang ingkar berubah menjadi kuning, hari kedua menjadi merah, dan hari ketiga menghitam.
Pada hari keempat, janji Allah SWT pun tiba. Suara menggelegar dari langit disertai gempa bumi yang dahsyat meluluhlantakkan negeri Al-Hijr. Kaum Tsamud yang sombong mati bergelimpangan di dalam reruntuhan tempat tinggal mereka sendiri tanpa sisa.
Namun, sebagaimana dijanjikan dalam Al-Qur'an Surat Hud ayat 66, Allah SWT menyelamatkan Nabi Saleh AS dan para pengikutnya yang beriman berkat rahmat-Nya.