Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

 

RAMADAN, menyisakan hari yang tuntas dalam hitungan jari. Syawalpun telah menanti, dengan keriuhan persiapan lebaran yang kerap mengalihkan kekhusyukan tarawih, mereduksi durasi tilawah, dan cukup mengusik ketenangan penghujung Ramadan yang seharusnya menjadi moment special untuk menguatkan bounding kita dengan Ilahi.

Seperti yang lalu-lalu, Ramadan kerap “pamit”  sembari meninggalkan pertanyaan besar; apa yang tersisa untuk kita setelah kepergiannya? Apakah Ramadan yang telah kita lalui hanya sebatas kisah tentang lapar dan dahaga? Adakah hati kita telah menyatu dengannya? Atau hanya sebatas ceremonial tahunan saja?

Sejatinya, syariat puasa Ramadan dengan segenap kemuliaan bulannya merupakan ruang “upgrading” kualitas penghambaan kita sebagai manusia kepada Allah ‘azza wajallaa.

Tujuan “muttaqin” memiliki pemaknaan yang menyeluruh, tidak hanya sebatas pemahaman, pengakuan, maupun ritual ibadah semata, namun juga mencakup manifestasi keimanan yang terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Taqwa merupakan puncak keimanan yang memiliki dimensi yang luas, meliputi keteguhan iman, disiplin dalam beribadah, serta upaya yang konsisten untuk membentuk akhlak yang mulia.

Ketaqwaan lahir dari hati sebagai sumber energy yang menggerakan jiwa manusia menuju ruang penghambaan yang utuh. Disyariatkannya puasa di bulan Ramadan  menjadi madrasah bagi individu untuk berlatih dalam rangka mencapai derajat muttaqin (orang-orang yang bertaqwa) dengan cara menerapkan nilai-nilai spiritual Ramadan secara menyeluruh dengan penuh kesadaran.

Keberhasilan individu dalam menerapkan nilai-nilai Ramadan seyogyanya menjadi spirit yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata di bulan-bulan setelahnya.

Inilah yang disebut sebagai meRamadankan hati, dimana meski Ramadan telah usai namun spirit dan nilai-nilai di dalamnya telah menginternalisasi dalam hati, jiwa dan raga yang termanisfestasikan dalam seluruh aspek kehidupan secara nyata.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Religi Terkini

Terpopuler