Seperti yang lalu-lalu, Ramadan kerap “pamit” sembari meninggalkan pertanyaan besar; apa yang tersisa untuk kita setelah kepergiannya? Apakah Ramadan yang telah kita lalui hanya sebatas kisah tentang lapar dan dahaga? Adakah hati kita telah menyatu dengannya? Atau hanya sebatas ceremonial tahunan saja?
Sejatinya, syariat puasa Ramadan dengan segenap kemuliaan bulannya merupakan ruang “upgrading” kualitas penghambaan kita sebagai manusia kepada Allah ‘azza wajallaa.
Taqwa merupakan puncak keimanan yang memiliki dimensi yang luas, meliputi keteguhan iman, disiplin dalam beribadah, serta upaya yang konsisten untuk membentuk akhlak yang mulia.
Ketaqwaan lahir dari hati sebagai sumber energy yang menggerakan jiwa manusia menuju ruang penghambaan yang utuh. Disyariatkannya puasa di bulan Ramadan menjadi madrasah bagi individu untuk berlatih dalam rangka mencapai derajat muttaqin (orang-orang yang bertaqwa) dengan cara menerapkan nilai-nilai spiritual Ramadan secara menyeluruh dengan penuh kesadaran.
Keberhasilan individu dalam menerapkan nilai-nilai Ramadan seyogyanya menjadi spirit yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata di bulan-bulan setelahnya.
Inilah yang disebut sebagai meRamadankan hati, dimana meski Ramadan telah usai namun spirit dan nilai-nilai di dalamnya telah menginternalisasi dalam hati, jiwa dan raga yang termanisfestasikan dalam seluruh aspek kehidupan secara nyata.
RAMADAN, menyisakan hari yang tuntas dalam hitungan jari. Syawalpun telah menanti, dengan keriuhan persiapan lebaran yang kerap mengalihkan kekhusyukan tarawih, mereduksi durasi tilawah, dan cukup mengusik ketenangan penghujung Ramadan yang seharusnya menjadi moment special untuk menguatkan bounding kita dengan Ilahi.
Seperti yang lalu-lalu, Ramadan kerap “pamit” sembari meninggalkan pertanyaan besar; apa yang tersisa untuk kita setelah kepergiannya? Apakah Ramadan yang telah kita lalui hanya sebatas kisah tentang lapar dan dahaga? Adakah hati kita telah menyatu dengannya? Atau hanya sebatas ceremonial tahunan saja?
Sejatinya, syariat puasa Ramadan dengan segenap kemuliaan bulannya merupakan ruang “upgrading” kualitas penghambaan kita sebagai manusia kepada Allah ‘azza wajallaa.
Tujuan “muttaqin” memiliki pemaknaan yang menyeluruh, tidak hanya sebatas pemahaman, pengakuan, maupun ritual ibadah semata, namun juga mencakup manifestasi keimanan yang terimplementasikan dalam kehidupan sehari-hari.
Taqwa merupakan puncak keimanan yang memiliki dimensi yang luas, meliputi keteguhan iman, disiplin dalam beribadah, serta upaya yang konsisten untuk membentuk akhlak yang mulia.
Ketaqwaan lahir dari hati sebagai sumber energy yang menggerakan jiwa manusia menuju ruang penghambaan yang utuh. Disyariatkannya puasa di bulan Ramadan menjadi madrasah bagi individu untuk berlatih dalam rangka mencapai derajat muttaqin (orang-orang yang bertaqwa) dengan cara menerapkan nilai-nilai spiritual Ramadan secara menyeluruh dengan penuh kesadaran.
Keberhasilan individu dalam menerapkan nilai-nilai Ramadan seyogyanya menjadi spirit yang terus diterapkan dalam kehidupan sehari-hari secara nyata di bulan-bulan setelahnya.
Inilah yang disebut sebagai meRamadankan hati, dimana meski Ramadan telah usai namun spirit dan nilai-nilai di dalamnya telah menginternalisasi dalam hati, jiwa dan raga yang termanisfestasikan dalam seluruh aspek kehidupan secara nyata.
Menerapkan Nilai-Nilai Ramadan
Pada dasarnya, nilai-nilai yang terkandung dalam ibadah puasa Ramadan merujuk pada makna taqwa sebagai tujuan syariat puasa Ramadan yang secara eksplisit dijelaskan dalam Alquran surah Al Baqoroh ayat 183 melalui kalimat la’allakum tattaquun (agar kamu bertaqwa).
Imam Al Ghazali mendefinisikan taqwa sebagai upaya menjaga diri dari murka Allah SWT dengan cara menjalankan perintahnya, menjauhi larangannya, serta membersihkan jiwa dari kotoran batin.
Imam Hasan al Bashri pun mendefiniskan serupa dan menambahkannya dengan munculnya perasaan takut melanggar syariat Allah SWT. Dari definisi tersebut, melahirkan beberpa nilainilai dalam puasa Ramadan yang meliputi : :
Nilai pengendalian diri (self control); dimana nilai ini mencakup berbagai aspek kehidupan. Puasa sebagai media pengontrol nafsuh syahwat dan nafsuh amarah yang menjadi target utama untuk “dijinakkan”.
Kemampuan ini menghasilkan kualitas personal yang luhur seperti kesabaran, keikhlasan, pemaafan dan kedisiplinan.
Nilai transformasi kesalehan; bahwa puasa bukan hanya menjadi media bounding individu secara vertical (hablumminallah) namun juga bermuatan horizontal (hablumminannas).
Puasa tidak hanya menyangkut menahan lapar, perubahan jam makan, namun ada upaya pengasahan empati yang terbentuk dari pengalaman lapar yang menjadi bagian yang melekat dalam kehidupan fakir miskin sehingga terbentuk kepedulian sosial, sikap dermawan, dan beragam wujud dari kesalehan sosial.
Nilai mindfulness penghambaan; merupakaan nilai kesadaran penuh atas posisi kita sebagai manusia, hamba Allah yang senantiasa diawasi, dan senaantiasa terhubung denganNya dalam segala situasi.
Kesadaran ini menjadi pusat pengendali sikap dan laku manusia agar sesuai dengan aturan Allah SWT, berpegang pada kejujuran, kekhusyukan dalam beribadah serta penerimaan keadaan diri dengan penuh syukur karena sadar bahwa semua atas kehendak Allah dan harapan atas pengampunanNya.
Nilai keseimbangan jasmani dan rohani; melalui puasa,upaya pemenuhan dorongan kebutuhan jasmani yang berpusat pada nafsuh menjadi lebih terkendali.
Dalam kondisi lapar, yang terjadi adalah melemahnya kekuatan nafsuh hewani, sehingga berdampak pada ruhani yang lebih jernih, hati menjadi lebih lembut dan mudah menerima cahaya kebenaran (hidayah). Dampaknya fisik menjadi lebih sehat, dan mental menjadi lebih tenang
Implementasi nilai spiritualitas Ramadan menjadi golden ticket untuk masuk ke pintu fitri atau fitrah yang bermakna suci kembali. Idulfitri atau lebaran tiba bukan menjadi pertanda amaliah bulan Ramadan benar-benar “bar” (selasai: bahasa jawa), namun justru menjadi awal mula pertarungan kita dengan diri sendiri untuk menghidupkan spirit Ramadan sepanjang perjalanan hidup yang tersisa.
Hal tersebut bisa diraih melalui keteguhan janji hati dan tekad batin untuk mewujudkan nilai serta spirit Ramadan sebagai wujud meRamadankan hati yang lahir dalam bentuk kesabaran, keikhlasan, kedisiplinan ibadah, keistiqomahan dalam tilawah.
Selain itu menghidupkan puasa sunnah maupun amalan sunnah lainnya, menyuburkan kesalehan sosial-spiritual, menghapus dendam, juga mengendalikan nafsuh amarah serta mengedepankan akhlak yang mulia dalam setiap kehidupan sehari-hari. Wallahu a’lam bishshowaab. (*)