Ramadan adalah bulan yang menyibukkan umat Islam dengan ibadah. Kesibukan beribadah harus bisa seimbang dengan aktivitas dunia lainnya.
Masalahnya, aktivitas dunia seperti bekerja, sekolah, dan lain-lain sering menguras energi dan waktu. Maka kultum yang singkat adalah perwujudan dari komunikasi empati yang memahami kesibukan khalayak dakwah.
Mereka tidak memerlukan ceramah panjang yang bertele-tele karena membuat kehilangan fokus. Kultum yang disampaikan dengan satu pesan utama lebih efektif seperti sabda Rasul, “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari”.
Tantangan dakwah digital berikutnya adalah sensasi, memicu kontroversi, viralisasi, bahkan monetisasi. Untuk menghindarinya, kultum perlu mengutip ayat Quran dan dalil hadits yang shahih agar tidak hanya menjadi ucapan motivasi tanpa dasar.
Kultum jangan menggunakan judul yang bombastis dan provokatif agar tidak meresahkan. Ada dalilnya, sesuai dengan konteksnya, serta relate dengan kehidupan khalayak.
MARAKNYA kultum di bulan Ramadan selalu menjadi fenomena berulang yang menarik untuk direnungkan.
Kultum (Kuliah Tiga/Tujuh Menit) adalah ceramah keislaman singkat karena disampaikan sekitar tujuh menit. Pelaksanaan kultum bisa secara tatap muka di masjid maupun melalui media digital.
Tujuan kultum adalah untuk menyampaikan pesan keislaman secara efisien dan mudah dipahami. Kutipan dalil Alquran dan hadits juga disebutkan dalam kultum. Kultum sebetulnya tidak hanya terbatas di bulan Ramadan saja.
Namun, kita sering menjumpai kultum di bulan Ramadhan hampir setiap selesai sholat berjamaah di masjid. Algoritma media digital pun banyak dihiasi dengan konten kultum baik di YouTube, Instagram, maupun TikTok. Tak terkecuali di WhatsApp baik jaringan pribadi, grup, maupun saluran.
Tentu saja kultum yang membanjiri bulan Ramadhan adalah fenomena yang baik. Namun, fenomena ini juga memicu kekritisan tentang apakah singkatnya kultum juga merupakan padatnya informasi? Atau apakah kultum benar-benar menyampaikan makna yang sederhana dan bukan euforia tanpa ruh
Dinamika dakwah digital tidak hanya memunculkan tantangan pada “apa yang disampaikan”. Tantangan dakwah di era scrol medsos juga pada “bagaimana penyampaian yang cepat, tepat, dan bermakna”. Khalayak dakwah tidak hanya membutuhkan materi kultum yang pendek tapi juga jernih.
Ini sesuai dengan firman Allah SWT dalam Quran Surat An Nahl ayat 125 yang sepenggal artinya adalah, “Serulah (manusia) kepada jalan Tuhan mu dengan hikmah dan Pelajaran yang baik…” Istilah “hikmah” dapat dimaknai sebagai kebijaksanaan dan ketepatan. Tepat dalam semua unsur dakwah tanpa menghilangkan substansinya.
Kultum adalah Wujud Komunikasi yang Empati
Ramadan adalah bulan yang menyibukkan umat Islam dengan ibadah. Kesibukan beribadah harus bisa seimbang dengan aktivitas dunia lainnya.
Masalahnya, aktivitas dunia seperti bekerja, sekolah, dan lain-lain sering menguras energi dan waktu. Maka kultum yang singkat adalah perwujudan dari komunikasi empati yang memahami kesibukan khalayak dakwah.
Mereka tidak memerlukan ceramah panjang yang bertele-tele karena membuat kehilangan fokus. Kultum yang disampaikan dengan satu pesan utama lebih efektif seperti sabda Rasul, “Mudahkanlah dan jangan mempersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari”.
Pesan Substansi, Bukan Sensasi
Tantangan dakwah digital berikutnya adalah sensasi, memicu kontroversi, viralisasi, bahkan monetisasi. Untuk menghindarinya, kultum perlu mengutip ayat Quran dan dalil hadits yang shahih agar tidak hanya menjadi ucapan motivasi tanpa dasar.
Kultum jangan menggunakan judul yang bombastis dan provokatif agar tidak meresahkan. Ada dalilnya, sesuai dengan konteksnya, serta relate dengan kehidupan khalayak.
Kultum Berdampak
Kultum seharusnya tidak hanya menyampaikan informasi tentang Islam tapi membawa perubahan ke arah kebaikan. Ini adalah esensi dan tujuan dakwah yang sebenarnya.
Ramadan bukan ajang kompetisi kultum. Marilah kita sampaikan kultum dengan tujuan menggerakkan umat untuk berdampak positif bagi dirinya dan sekitarnya.
Bukan sekedar formalitas dan rutinitas. Harapannya, umat pun menangkap makna kultum dan tergerak pikiran, hati, dan perbuatannya ke arah yang lebih baik. Amin. (*)