Senin, 27 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Imsak mengingatkan bahwa subjek tidak harus tunduk pada ritme platform, karena ada ritme lain yang dapat dipilih, ritme ibadah, ritme kerja yang tekun, ritme hubungan yang hangat, dan ritme batin yang tidak tergesa.

Membaca imsak seperti ini juga memperluas pemahaman tentang menahan. Menahan tidak lagi sekadar larangan, melainkan praktik pengelolaan yang menuntut kemampuan memilah apa yang pantas diberi ruang, kapan sesuatu layak diberi atensi, dan kapan ia sebaiknya ditunda.

Dalam tradisi etika, kemampuan menunda adalah inti pengendalian diri, bukan penyangkalan atas dunia, melainkan cara berhubungan dengan dunia tanpa kehilangan diri.

Di ruang digital, pengendalian diri menjadi semakin penting karena rangsangan datang terus-menerus dan sering dikemas sebagai hiburan, ancaman, atau urgensi, sehingga memintas pertimbangan yang lebih panjang.

Ramadan memiliki logika waktu yang khas. Penanda penahan, berbuka, salat, tilawah, tarawih, dan sahur menyusun ulang ritme hidup sehingga hari tidak ditentukan hanya oleh jam kerja atau arus kabar.

Di sisi lain, ruang digital punya logika waktu yang terus meminta keterhubungan dan memproduksi rasa harus selalu hadir. Ketika dua logika waktu ini bertemu, konflik kecil muncul di dalam batin.

Imsak dapat dibaca sebagai upaya mengunggulkan waktu sakral di atas waktu platform, bukan dengan memusuhi teknologi, tetapi dengan menempatkannya kembali sebagai alat. Dari situ orang belajar bahwa ada saat untuk membaca kabar, dan ada saat untuk memulihkan batin.

Abu Hamid al Ghazali memberi kedalaman yang terasa relevan untuk situasi hari ini. Dalam pembahasan tentang tingkatan puasa, ia membedakan ṣawm al ʿumūm, ṣawm al khuṣūṣ, dan ṣawm khuṣūṣ al khuṣūṣ.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Religi Terkini

Terpopuler