Minggu, 26 Juli 2026

Apresiasi Pembaca

Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com

Syarat dan Ketentuan

Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.

Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.

Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.

Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.

Murianews, Jakarta – Sosok Nabi Yahya AS menempati posisi istimewa sebagai utusan Allah bagi kaum Bani Israil di tanah Palestina.

Kehadirannya tidak hanya menjadi pelanjut risalah sang ayah, Nabi Zakaria AS, tetapi juga menjadi simbol keajaiban atas doa yang dikabulkan di tengah kemustahilan manusiawi.

Kisah Nabi Yahya AS diabadikan sebanyak lima kali dalam Al-Qur'an, tersebar di beberapa surat utama seperti Ali Imran, Maryam, dan Al-Anbiya.

Namanya sendiri merupakan pemberian langsung dari Allah SWT. Menurut Buya Hamka, dalam Tafsir al-Azhar nama Yahya berasal dari bahasa Ibrani yang belum pernah digunakan oleh siapa pun sebelumnya.

Kelahiran Nabi Yahya merupakan jawaban atas kerinduan Nabi Zakaria AS yang mendambakan keturunan sebagai penerus perjuangan dakwah.

Berdasarkan catatan Ibnu Katsir dan Buya Hamka, Nabi Yahya lahir saat ayahnya telah berusia senja, diperkirakan di atas 90 tahun, dan ibunya dalam kondisi mandul.

Kabar gembira mengenai kelahirannya disampaikan oleh malaikat saat Nabi Zakaria tengah melaksanakan salat di mihrab.

Sejak dalam kandungan, Allah SWT telah menjanjikan bahwa Yahya akan menjadi sosok yang membenarkan kalimat-kalimat Allah, menjadi pemimpin yang terpelihara, serta nabi yang saleh.

Keistimewaan...

Salah satu keistimewaan Nabi Yahya AS yang paling menonjol adalah pemberian hikmah sejak ia masih kanak-kanak.

Merujuk pada Surat Maryam ayat 12-15, beliau diperintahkan untuk mempelajari Kitab Taurat dengan sungguh-sungguh sejak usia dini.

Buya Hamka menjelaskan, hikmah tersebut berupa wahyu dan pengangkatan sebagai rasul pada usia yang sangat muda.

Sejak kecil, Nabi Yahya telah kehilangan ketertarikan pada kesenangan duniawi. Dalam sebuah riwayat, ketika teman sebaya mengajaknya bermain, ia menjawab dengan tegas, ”Aku tidak diciptakan Allah hanya untuk bermain-main.”

Sejalan dengan itu, Al-Alusi dalam Ruh al-Ma’ani menyebutkan, Nabi Yahya telah diberikan pemahaman mendalam terhadap Kitab Taurat sejak usia tujuh tahun, disertai semangat ibadah yang luar biasa.

Nabi Yahya AS juga dikenal sebagai nabi yang dimaksumkan atau dijaga oleh Allah SWT dari perbuatan dosa dan maksiat sejak lahir.

Menurut Al-Baidhawi, kemaksuman ini mencakup perlindungan dari godaan setan, azab kubur, hingga ngeri hari kebangkitan.

Kemurnian jiwa Nabi Yahya dipertegas dalam sebuah hadis yang dikutip Ibnu Katsir, di mana Rasulullah SAW bersabda:

”Tidak ada seorang pun dari anak Adam melainkan pernah berbuat dosa atau berniat melakukan suatu dosa, selain Yahya ibnu Zakaria.” (HR. Ahmad).

Teladan...

Riwayat Nabi Yahya AS memberikan pelajaran berharga mengenai kesungguhan dalam menuntut ilmu agama dan menjaga kesucian diri.

Kehidupannya yang penuh kasih sayang kepada sesama, ketaatan kepada orang tua, serta sifatnya yang tidak sombong menjadikannya teladan sempurna bagi generasi muda Muslim.

Follow Murianews.com untuk mendapatkan informasi terkini. Klik WhatsApp Channel & Google News

Religi Terkini

Terpopuler