Sepanjang perjalanan dakwahnya, Nabi Ilyas AS dibekali berbagai mukjizat seperti membangkitkan orang mati. Atas izin Allah, beliau menghidupkan kembali anak dari seorang wanita tua yang membantunya.
Kemudian mukjizat kecepatan luar biasa, yakni mampu berlari sangat kencang hingga mendahului kereta kuda milik Raja Arab saat dalam pengejaran.
Tidak hanya itu, Nabi Ilyas juga mempunyai mukjizat pengendali cuaca. Doanya dikabulkan Allah untuk mendatangkan kemarau panjang maupun menurunkan hujan.
Murianews, Jakarta – Dalam silsilah kenabian, Nabi Ilyas AS tercatat sebagai keturunan keempat dari Nabi Harun AS. Garis keturunannya menyambung hingga Nabi Ibrahim AS melalui Ishak dan Yakub.
Beliau diutus oleh Allah SWT kepada kaum Bani Israil yang menetap di wilayah Ba’labak (sebelah barat Damaskus) untuk mengakhiri praktik penyembahan berhala.
Pada masa itu, kaum Bani Israil hidup dalam gelimang kemewahan namun terjebak dalam kemusyrikan yang nyata. Mereka menyembah berhala emas bernama Ba’al yang diletakkan di atas Gunung Karmal.
Bagi mereka, Ba’al dianggap sebagai pusat perlindungan dan tempat memohon pertolongan, sebuah pembangkangan yang diabadikan dalam Al-Qur'an surat As-Saffat ayat 123-132.
Dakwah Nabi Ilyas AS kerap kali dibalas dengan penolakan keras hingga ancaman pembunuhan. Merespons pembangkangan tersebut, Allah SWT menurunkan azab berupa kekeringan panjang selama tiga tahun.
Selama masa sulit tersebut, Nabi Ilyas AS menyelamatkan diri dari kejaran kaumnya dengan bersembunyi di dalam gua.
Dalam persembunyiannya, beliau menerima bantuan mukjizat berupa burung gagak yang dikirimkan Allah untuk mengantarkan makanan.
Namun, meskipun bencana kelaparan melanda, kaum Bani Israil tetap pada pendiriannya dan justru menuduh Nabi Ilyas AS sebagai pembawa sial dan pengacau.
Rumah terpencil...
Dalam pelariannya, Nabi Ilyas AS menemukan sebuah rumah terpencil yang dihuni oleh seorang wanita tua dengan anak laki-lakinya yang sedang sakit parah. Melalui doa Nabi Ilyas, anak tersebut disembuhkan oleh Allah SWT.
Pemuda itulah yang kemudian dikenal sebagai Ilyasa AS, yang di kemudian hari diangkat menjadi nabi untuk melanjutkan perjuangan dakwah Nabi Ilyas.
Keajaiban lain terjadi saat Nabi Ilyas memohon hujan kepada Allah setelah kaumnya berjanji untuk bertaubat. Hujan pun turun dan ekonomi Ba’labak kembali pulih. Sayangnya, kenikmatan tersebut tidak membuat mereka bersyukur dalam waktu lama.
Bani Israil kembali pada kebiasaan menyembah berhala Ba’al setelah kemakmuran kembali mereka rasakan.
Keteguhan hati Nabi Ilyas AS diuji hingga batas akhir ketika ia dan pengikutnya yang beriman memutuskan untuk meninggalkan negeri tersebut karena kaumnya kembali durhaka.
Tak lama setelah kepergian beliau, musibah yang lebih dahsyat berupa gempa bumi melanda Ba’labak, melenyapkan mereka yang membangkang.
Mengenai akhir hayatnya, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Nabi Ilyas AS tidak wafat di bumi, melainkan diangkat ke langit oleh Allah SWT.
Dalam beberapa tafsir, termasuk Ibnu Katsir dan Ibnu Arabi, kedudukan Nabi Ilyas disejajarkan dengan Nabi Idris AS sebagai sosok yang diberikan derajat tinggi di sisi Tuhan.
Mukjizat...
Sepanjang perjalanan dakwahnya, Nabi Ilyas AS dibekali berbagai mukjizat seperti membangkitkan orang mati. Atas izin Allah, beliau menghidupkan kembali anak dari seorang wanita tua yang membantunya.
Kemudian mukjizat kecepatan luar biasa, yakni mampu berlari sangat kencang hingga mendahului kereta kuda milik Raja Arab saat dalam pengejaran.
Tidak hanya itu, Nabi Ilyas juga mempunyai mukjizat pengendali cuaca. Doanya dikabulkan Allah untuk mendatangkan kemarau panjang maupun menurunkan hujan.