Teladan Nabi
Meneladani Nabi Yusuf AS: Dari Sumur Tua Hingga Singgasana Mesir
Cholis Anwar
Senin, 2 Maret 2026 11:30:00
Apresiasi Pembaca
Kirimkan apresiasi Anda untuk mendukung jurnalisme bersih dan profesional Murianews.com
Syarat dan Ketentuan
Definisi Apresiasi Pembaca adalah fitur dukungan dari pembaca kepada Murianews.com dalam bentuk kontribusi finansial melalui platform resmi kami.
Kontribusi ini bersifat sukarela dan tidak memberikan hak kepemilikan atau kendali atas konten maupun kebijakan redaksi.
Seluruh kontribusi akan digunakan untuk mendukung keberlangsungan layanan, pengembangan konten, dan operasional redaksi.
Murianews.com tidak berkewajiban memberikan balasan atas kontribusi, namun kami menghargai setiap dukungan yang diberikan.
Di dalam penjara, mukjizat Yusuf dalam menafsirkan mimpi mulai tersiar. Puncaknya adalah ketika Raja Mesir bermimpi tentang tujuh sapi gemuk yang dimakan oleh tujuh sapi kurus.
Yusuf berhasil menafsirkan bahwa Mesir akan menghadapi tujuh tahun masa subur yang disusul oleh tujuh tahun paceklik hebat.
Kagum akan kecerdasan dan kejujurannya, Raja membebaskan Yusuf dan mengangkatnya menjadi Bendahara Negara (Al-Aziz) yang memegang kendali penuh atas logistik pangan Mesir.
Saat musim paceklik tiba, saudara-saudara Nabi Yusuf datang ke istana untuk meminta bantuan pangan tanpa menyadari bahwa sang penguasa adalah adik yang pernah mereka buang. Setelah melalui serangkaian proses, Yusuf akhirnya mengungkap jati dirinya.
Pertemuan besar terjadi ketika Nabi Yaqub AS beserta seluruh keluarganya diboyong ke Mesir. Mimpi masa kecil Yusuf pun menjadi nyata; seluruh keluarga besar bersujud dan berkumpul kembali dalam kemuliaan Islam setelah puluhan tahun terpisah.
Nabi Yusuf AS menjalani sisa hidupnya sebagai pemimpin yang adil di Mesir. Beliau wafat pada usia 120 tahun, menyusul ayahnya yang wafat pada usia 140 tahun.
Sesuai wasiatnya, beliau dikebumikan di wilayah Syam bersama para pendahulunya, Nabi Ibrahim dan Nabi Ishaq.



