Rabu, 28 Februari 2024

Ini Tata Cara Salat di Atas Kendaraan yang Penting Diketahui

Dani Agus
Selasa, 18 April 2023 21:08:28
Foto: Ilustrasi (NU Online Jatim)
Murianews, Kudus – Salat adalah salah satu rukun Islam. Melaksanakan salat merupakan sebuah kewajiban yang harus ditunaikan dalam kondisi apapun. Termasuk ketika sedang perjalanan seperti saat mudik lebaran. Dalam kondisi ini, bisa melakukan salat di atas kendaraan. Melakukan perjalanan, baik jauh maupun dekat, adalah salah satu kebutuhan manusia dalam rangka memenuhi berbagai kebutuhan hidupnya. Sementara di sisi lain bagi seorang Muslim melakukan ibadah salat, baik wajib maupun sunah, juga merupakan satu kebutuhan untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT. Baca juga: Ini Bacaan Wirid dan Doa setelah Salat Witir Yang menjadi permasalahan kemudian adalah ketika kebutuhan untuk menjalani ibadah salat berbenturan dengan kondisi dirinya yang sedang berada di atas sebuah kendaraan dalam sebuah perjalanan, sementara untuk turun dari kendaraan terkadang juga mengalami kendala-kendala tertentu, sehingga mau tidak mau salat dilakukan di atas kendaraan. Lalu bagaimana para ulama menentukan aturan main untuk melakukan salat di atas kendaraan? Abu Bakar Al-Hishni di dalam kitabnya Kifâyatul Akhyâr menuturkan:

 يجوز للْمُسَافِر التنقل رَاكِبًا وماشياً إِلَى جِهَة مقْصده فِي السّفر الطَّوِيل والقصير على الْمَذْهَب

Artinya: ”Diperbolehkan bagi seorang yang sedang melakukan perjalanan baik berkendara atau berjalan kaki untuk melakukan salat sunah dengan menghadap ke arah tempat tujuannya, di dalam perjalanan yang panjang (yang diperbolehkan mengqashar salat) dan di dalam perjalanan yang pendek (yang tidak diperbolehkan mengqashar salat) menurut pendapat yang dipegangi madzhab (Syafi’i).” (Abu Bakar Al-Hishni, Kifâyatul Akhyâr [Damaskus: Darul Basyair], 2001, juz I, hal. 125) Pendapat ini didasarkan pada sebuah hadis:

 عَنْ جَابِرٍ كَانَ رَسُول اللَّهِ يُصَلِّي عَلَى رَاحِلَتِهِ حَيْثُ تَوَجَّهَتْ فَإِذَا أَرَادَ الْفَرِيضَةَ نَزَل فَاسْتَقْبَل الْقِبْلَةَ

Artinya: ”Dari Jabir bin Abdillah radliyallâhu ‘anhu bahwa Rasulullah SAW salat di atas kendaraannya menghadap kemana pun kendaraannya itu menghadap. Namun bila beliau hendak salat fardu, maka beliau turun dan salat menghadap kiblat.” (HR. Bukhari) Dari penjelasan dan hadis di atas dapat diambil satu pelajaran bahwa pada dasarnya salat yang dapat dilakukan di atas kendaraan adalah salat sunah saja. Ini bisa dipahami dari hadis di atas bahwa ketika Rasulullah akan melakukan salat fardlu maka beliau akan turun dari untanya. Itu artinya ketika beliau melakukan salat di atas unta yang beliau lakukan adalah salat sunah, bukan salat fardu. Juga dipahami bahwa ketika seseorang melakukan salat sunah di atas kendaraan maka diperbolehkan baginya untuk tidak menghadap ke arah kiblat sebagaimana Rasulullah juga melakukannya. Beliau menghadap ke arah manapun unta yang ditumpanginya menghadap. Pun orang yang melakukan salat sunah di atas kendaraan juga diperbolehkan melakukannya tidak dengan berdiri, bisa dengan duduk meskipun keadaan memungkinkan untuk melakukannya dengan berdiri. Mengapa demikian? Karena kewajiban salat sambil berdiri itu hanya berlaku untuk salat fardu saja. Untuk salat sunah orang yang tidak sedang sakit sekalipun diperbolehkan melakukannya dengan duduk. Lalu bagaimana dengan salat wajib? Masih berdasarkan hadis di atas, bahwa salat wajib tidak bisa dilakukan di atas kendaraan kecuali bila dilakukan secara sempurna sebagaimana mestinya salat itu dilakukan. Ini bisa dipahami dari kalimat bahwa Rasulullah turun dari untanya ketika hendak melakukan salat fardu. Turunnya Rasulullah dari kendaraan yang ditungganginya itu dimaksudkan agar beliau dapat melakukan salat fardlu sebagaimana mestinya, yakni dengan menghadap kiblat, berdiri, ruku’ dan sujud secara benar. Rasulullah pernah memerintahkan kepada Ja’far bin Abi Thalib untuk melakukan salat di atas kapal laut ketika menuju ke negeri Habasyah dengan berdiri.

 أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَمَرَهُ أَنْ يُصَلِّيَ فِي السَّفِينَةِ قَائِمًا مَا لَمْ يَخْشَ الْغَرَقَ

Artinya: ”Bahwa Nabi SAW memerintahkan Ja'far bin Abi Thalib untuk salat di atas kapal laut dengan berdiri selama tidak takut tenggelam.” (HR. Al-Bazzar). Maka ketika seseorang dalam perjalanan dan hendak melakukan salat fardlu sementara tidak mungkin dilakukan secara sempurna di atas kendaraan maka ia mesti turun dari kendaraannya. Ia mesti melakukan salat fardunya di atas tanah. Namun demikian melihat realita di lapangan sering kali terjadi beberapa kemungkinan yang menjadikan seseorang mungkin atau tidak mungkin melakukan salat fardu. Beberapa kemungkinan itu di antaranya adalah: Pertama, bila yang ditumpangi adalah kendaraan pribadi maka kiranya tidak ada alasan untuk tidak bisa turun dan melakukan salat fardu di atas tanah sebagaimana mestinya. Orang yang mengendarai kendaraan pribadi tentunya ia bisa sekehendaknya menghentikan kendaraannya. Kedua, bila yang ditumpangi adalah pesawat, kereta api, dan kapal laut maka masih ada kemungkinan untuk bisa melakukan salat fardu sebagaimana mestinya di atas kendaraan-kendaraan itu. Masalahnya kemudian tinggallah soal kemauan orang yang bersangkutan untuk salat atau tidak. Ketiga, bila yang ditumpangi adalah kendaraan umum seperti bus antar kota maka kecil kemungkinan – untuk tidak mengatakan tidak bisa sama sekali – untuk melakukan salat fardu di atasnya. Kiranya sulit salat di atas bus sambil berdiri, rukuk, dan sujud secara sempurna. Pun sulit pula melakukannya dengan menghadap ke arah kiblat. Harapan yang tersisa adalah bila bus berhenti di tempat peristirahatan – semisal rumah makan – tepat pada waktunya salat. Bila terjadi kemungkinan yang ketiga, di mana penumpang benar-benar tidak bisa turun untuk salat atau melakukan salat secara sempurna di atas kendaraannya, maka satu-satunya yang mesti ia lakukan adalah shalât li hurmatil waqti, yakni melakukan salat sekadar untuk menghormati datangnya waktu salat, karena pada dasarnya seseorang tidak diperbolehkan meninggalkan salat ketika ia menemui datangnya waktu salat. Salat li hurmatil waqti ini dilakukan bagi orang yang tidak bisa memenuhi ketentuan-ketentuan salat secara sempurna, seperti tidak menemukan air dan debu untuk bersuci, dan tidak bisa menghadap kiblat, ruku’ dan sujud secara sempurna. Orang yang melakukan salat li hurmatil waqti wajib mengulangi salatnya ketika telah memungkinkan untuk melakukannya secara sempurna. Imam Nawawi dalam kitab Majmû’ menuturkan:

 قَالَ أَصْحَابُنَا وَلَوْ حَضَرَتْ الصَّلَاةُ الْمَكْتُوبَةُ وَهُمْ سَائِرُونَ وَخَافَ لَوْ نَزَلَ لِيُصَلِّيَهَا عَلَى الْأَرْضِ إلَى الْقِبْلَةِ انْقِطَاعًا عَنْ رُفْقَتِهِ أَوْ خَافَ عَلَى نَفْسِهِ أَوْ مَالِهِ لَمْ يَجُزْ تَرْكُ الصَّلَاةِ وَإِخْرَاجُهَا عَنْ وَقْتِهَا بَلْ يُصَلِّيهَا عَلَى الدَّابَّةِ لِحُرْمَةِ الْوَقْتِ وَتَجِبُ الْإِعَادَةُ لِأَنَّهُ عُذْرٌ نَادِرٌ

Artinya: ”Para sahabat kami berpendapat, bila telah datang waktu salat fardlu sementara mereka dalam perjalanan, dan bila turun untuk salat di atas tanah dengan menghadap kiblat khawatir akan tertinggal dari rombongannya atau mengkhawatirkan dirinya sendiri atau hartanya, maka tidak diperbolehkan baginya meninggalkan salat dan mengeluarkan dari waktunya. Ia mesti salat di atas kendaraannya untuk menghormati waktu salat dan wajib mengulanginya (bila telah memungkinkan), karena hal itu merupakan uzur yang jarang terjadi.”  (Yahya bin Syaraf An-Nawawi, Al-Majmû’ Syarhul Muhadzdzab [Jedah: Maktabah Al-Irsyad], tt., juz III, hal. 222) Wallâhu a’lam.  

Baca Juga

Komentar